Hallooo,,,gak terasa udah masuk Bulan Ramdhan, bagi yang belom tau jadwal waktu imsak, buka, dan sholat bisa di lihat dibawah ini.
Monggo ^_^
Desa PundungSari Kecamatan Semin Kabupaten Gunung Kidul
>
Kedua, melalui kesempatan ini pula saya ingin mengimbau kesukarelaan masyarakat luas untuk lebih menghargai para pahlawan yang masih hidup di antara kita; baik secara moril lewat pemberian berbagai tanda kehormatan, maupun tak kalah penting secara material. Pentingnya hal tersebut belakangan bukan sekadar untuk menjamin kehidupan yang layak bagi si pelaku berserta keluarganya, atau semata-mata hendak mencegah sang pahlawan kecewa dan lalu ’desersi’. Tapi justru demi melestarikan pretasi sosial itu sendiri. Jangan sampai kita lupa, bahwa para pahlawan itu adalah manusia-manusia yang masih hidup di dunia fana, belum kembali ke alam baka.
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya : "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Saya memandang apa yang ada di sekeliling saya semuanya tidak menyenangkan. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Bawahan saya semua menyebalkan.Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati".
"Ya, memang saya sudah bosan hidup", jawab pria itu lagi.
Di dalam buku Pengantar ilmu antropologi, C. Kluckhohn[1] yang dikutip oleh Koentjaraningrat mengatakan bahwa variasi jenis nilai budaya bertumpu pada lima masalah dasar kehidupan manusia, yaitu hakikat hidup manusia, karya manusia, kedudukan manusia dalam ruang waktu, hubungan manusia dengan alam sekitarnya, dan hubungan manusia dengan manusia lainnya.
Terakhir, masalah hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam kepustakawanan.difokuskan pada pustakawan. Sistem nilai budaya jelas terlihat pada kode etik pustakawan yang mementingkan etika layanan. Nilai budaya yang muncul adalah mementingkan kebutuhan masyarakat akan informasi, menjaga hubungan baik dengan masyarakat yang dilayani, juga menjaga hubungan antara sesama pustakawan. Nilai budaya yang terlihat adalah nilai kebersamaan, membantu sesama, keadilan, pendidikan, dan sebagainya.
KALENDER GREGORIAN (MASEHI) |
Horeeee….Tahunnn Baruu,,,Happy New Yearss \(^__^)/. Ohh yaa pada tau enggak nih sejarahnya Tahun Masehi, padahal udah seneng banget ngerayain tahun baru tapi sejarahnya tahun masehi kagak tau,,,Okke dehh kali mimin akan ceritakan sejarahnya,,,cie,,cie :D Kalender Gregorian atau kalender Masehi yang sekarang ini udah menjadi standard penghitungan hari internasional lhoo. Padahal awalnya kalender ini dipakai untuk menentukan jadwal kebaktian di gereja-gereja Katolik dan Protestan. Kalender Gregorian adalah kalender murni surya yang bertemu siklusnya pada tiap 400 tahun (146097 hari) sekali. Satu tahun normal panjangnya 365 hari, tiap bilangan tahun yang habis dibagi 4 tahunnya (Tahun Kabisat) memanjang menjadi 366 hari, namun tidak berlaku untuk kelipatan 100 tahun dan berlaku kembali tiap kelipatan 400 tahun. Sebagai contohnya tahun 2000 adalah tahun panjang (kabisat, leap year) sedangkan tahun 1900 tahun normal. Kalau kita bagi 146097 hari dengan 400, didapatkan angka 365.2425, hampir mendekati daur waktu surya yaitu 365.2421896698 - 0.00000615359 T - 7.29E-10 T^2 + 2.64E-10 T^3 hari. Dengan demikian koreksi pengurangan akan terkumpul menjadi 1 hari setelah sekitar 2500 tahun sekali. Usulan mengenai kapan dilakukannya koreksi itu sudah sering dihembuskan, namun belum di-institusikan. Kalender Gregorian ini sebenernya pembaruan dari kalender Julian. Dalam 16 abad pemakaian kalender Julian, titik balik surya sudah bergeser maju sekitar 10 hari dari yang biasanya ditengarai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun. Hal ini membuat kacaunya penentuan hari raya Paskah yang bergantung kepada daur candra dan daur surya di titik balik tersebut. Nahh,,,dikhawatirkan Paskah akan semakin bergeser tidak lagi jatuh di musim semi untuk belahan bumi utara, serta semakin menjauhi peringatan hari pembebasan jaman Nabi Musa (penyeberangan laut merah). Pemikiran tentang koreksi ini sebenarnya telah mulai dipergunjingkan dengan keluarnya tabel-tabel koreksi oleh gereja sejak jaman Paus Pius V pada tahun 1572. Dekrit rekomendasi baru dikeluarkan oleh penggantinya, yaitu Paus Gregorius XIII, dan disahkanlah pada tanggal 24 februari 1582. Isinya antara lain tentang koreksi daur tahun kabisat dan pengurangan 10 hari dari kalender Julian. Dengan demikian, tanggal 4 Oktober 1582 Julian, esoknya adalah tanggal 15 oktober 1582 Gregorian. Tangal 5 hingga 14 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam sejarah kalender ini. Sejak saat itu, titik balik surya bisa kembali ditandai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun, dan tabel bulan purnama yang baru disahkan untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia. Pada mulanya kaum protestant tidak menyetujui reformasi Gregorian ini, baru pada abad berikutnya kalender itu diikuti. Dalam tubuh Katolik sendiri, kalangan gereja ortodox juga bersikeras untuk tetap mengikuti kalender Julian, namun pemerintahan demi pemerintahan mulai mengakui dan akhirnya pemakaiannya semakin meluas seperti yang kita lihat sekarang deh. |